E-LEARNING
A.
Definisi
Dan Ruang Lingkup E-Learning
E-learning
merupakan salah satu bentuk dari aplikasi teknologi informasi dan komunikasi
dalam kegiatan pembelajaran ada beberapa definisi e-learning yang dikemukakan
oleh para ahli definisi definisi tersebut memiliki cakupan yang berbeda
tergantung dari perspektif yang digunakan oleh ahli yang bersangkutan Berikut
ini adalah beberapa definisi e-learning dari penulis yang didapatkan dari
berbagai sumber.
Clark
Adrick dalam bukunya yang berjudul simulation and the picture of learning
menekankan definisi e-learning dalam kerangka berpikir penggunaan jaringan
komputer ia menyatakan bahwa e-learning merupakan kombinasi antara proses
materi dan infrastruktur dalam penggunaan komputer dari dan jaringannya dalam
rangka meningkatkan kualitas pada satu atau lebih bagian signifikan dari
aspek-aspek rangkaian kegiatan pembelajaran termasuk diantaranya adalah aspek
manajemen dan aspek pendistribusian materi pelajaran.
Organisasi
masyarakat Amerika untuk kegiatan pelatihan pengembangan (The American Society
of training and development) memberikan definisi umum dari yang lebih spesifik
terhadap metode maupun media yang digunakan dalam proses kloning definisi ini
dimuat dalam situs web about learning.com definisi tersebut menyatakan bahwa
ini merupakan proses dan kegiatan penerapan pembelajaran berbasis web
pembelajaran berbasis web pendidikan virtual dan kolaborasi digital
materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan
dihantarkan melalui media internet intranet video dan atau media penyiaran
melayani satelit televisi interaktif dan CD room definisi ini juga menyatakan
bahwa definisi dan e-learning bisa bervariasi tergantung dari penyelenggara
kegiatan tersebut dan bagaimana cara penggunaannya.
Definisi
ini juga menyiratkan simpulan menyatakan bahwa E-learning pada dasarnya adalah
pengaplikasian kegiatan komunikasi Pendidikan dan Pelatihan secara elektronik.
definisi dari ASTD inilah yang banyak digunakan atau dijadikan pedoman oleh
institusi-institusi pendidikan atau penyedia layanan atau software e-learning
contohnya learnframe.com yang menyediakan sistem manajemen e-learning atau
aplikasi CMS learning model yang banyak digunakan oleh institusi pendidikan
konvensional dalam kegiatan blended learning
Berdasarkan
definisi ilmu yang telah dikemukakan oleh Karl dan organisasi The American
society for training and development/ASTD, penulis bisa membuat suatu
kesimpulan bahwa e-learning adalah penggunaan teknologi komputer dan jaringan
komputer yang disertai oleh penerapan model pembelajaran inovatif dalam rangka
pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang akan memberikan akses luas kepada
peserta didik terhadap ilmu pengetahuan agar mereka bisa memperoleh
keterampilan baru.
Proses
pembelajaran elektronik ini dilaksanakan guna meningkatkan kualitas rangkaian
kegiatan pembelajaran selain menggunakan komputer sebagai sumber utama
pengetahuan kegiatan pembelajaran ini juga memungkinkan penggunaan perangkat
elektronik lain secara telepon seluler atau perangkat elektronik bergerak
lainnya sebagai media penyampaian materi pelajaran. Model pembelajaran yang
bisa digunakan adalah model pembelajaran berbasis web web Based Learning
pembelajaran berbasis komputer atau komputer Based Learning pendidikan virtual
atau virtual education dan atau collaboration digital atau digital collection
sedangkan materi pelajarannya sendiri bisa dihantarkan melalui media internet,
intranet tape video, atau audio, penyiaran melalui satelit, televisi interaktif
dan CD room
E-learning
adalah perangkat pendidikan berbasis komputer atau sistem yang memungkinkan
anda untuk bekerja dimana saja dan kapan saja saat ini learning dapat
disampaikan melalui internet tetapi di masa lalu Ira Ning hanya dapat
disampaikan melalui menggunakan metode berbasis komputer seperti video warning
juga merupakan model pembelajaran yang mencangkup ragam media penyampaian bahan
ajar dan konten melalui situs di internet dengan menggunakan multimedia ragam
media yang dapat menyampaikan pesan teks grafik audio video animasi secara
terintegrasi televisi interaktif kelas virtual atau pembelajaran yang mediasi
komputer dan internet secara synchronous/real time dengan guru atau pengajar
dan pembelajar tidak berada dalam sebuah tempat atau ruangan yang sama tele
atau video konferensi yang dimediasi komputer LED atau proyektor dan internet
secara sinkronus atau real-time dengan pembicara tidak berada dalam sebuah
ruangan atau ruangan yang sama dengan peserta tetapi sesama peserta bisa berada
dalam sebuah tempat atau ruangan yang sama atau berbeda
E-learning
juga dapat digunakan secara sebagai salah satu upaya dalam meningkatkan
pengetahuan dan kinerja Melalui penggunaan teknologi internet siswa yang
menggunakan e-learning dapat mengontrol isi urutan belajar laju belajar waktu
dan media yang dapat memungkinkan mereka untuk menyesuaikan pengalaman belajar
mereka dalam memenuhi tujuan belajar learning juga disebut sebagai pembelajaran
berbasis web pembelajaran dalam jaringan online pembelajaran yang terdistribusi
dengan intruksi yang dibantu oleh komputer atau disebut juga dengan
pembelajaran berbasis internet e-learning mengacu pada penggunaan teknologi
informasi dan komunikasi untuk memungkinkan akses ke sumber belajar atau
disebut juga dengan pengajaran online berdasarkan uraian di atas learning dapat
dikatakan dikatakan sebagai berikut 1 metode pembelajaran baru yang menggunakan
media jaringan komputer dan internet pembelajaran baru yang menggunakan media
jaringan komunikasi dan internet
Pembelajaran
di mana bahan ajar nya atau konten yang disampaikan melalui Media elektronik
dalam hal ini bentuk bahan ajar nya berupa konten digital yang ketiga
pembelajaran yang prosesnya didukung oleh sebuah sistem dan aplikasi elektronik
jadi dapat dikatakan bahwa ilearning merupakan sebuah perubahan paradigma strategi
dalam pembelajaran yang dikembangkan dari pembelajaran berpusat kepada berpusat
pada pengajar (teacher centered) menjadi pembelajaran berpusat pada peserta
didik (student centered) strategi pembelajaran tersebut dapat dilakukan seiring
dengan perkembangan teknologi informasi
B.
Unsur-unsur E-learning
·
Berupa softfile dan hardfile
·
Softfile diantaranya jaringan internet,
aplikasi pembelajaran dll
·
Hardfile diantaranya semua alat
teknologi yang mendukung menjalankannya softfile
C.
Search engine dalam e-learning
Search
engine adalah sebuah program yang dapat diakses melalui internet yang berfungsi
untuk membantu pengguna komputer dalam mencari berbagai hal yang ingin
diketahuinya. Di internet banyak sekali search engine yang bisa diakses secara
cuma-cuma dari ratusan sampai
ribuan, search engine sifatnya sebagai
pintu gerbang bagi para pengguna sebelum memasuki situs (website) yang
diinginkan. Dari berbagai search engine yang ada, yang paling populer adalah
Google, Yahoo dan Altavista yang dapat diakses di alamat www.google.com,
www.yahoo.com dan www.altavista.com
Cara
Kerja Search Engine
Dengan
mengetikkan kata kunci (keyword) di dalam kotak kosong dan menekan tombol
“search” maka aplikasi search engine akan mencari ke internet, berbagai jenis
data baik dalam bentuk dokumen, gambar, audio maupun video yang didalamnya
terdapat kata kunci yang kita ketikkan tadi. Gambar di bawah ini contoh
tampilan dari search engine Google
Indonesia
Cobalah
mengetikkan sebuah kata misalnya :
“komputer” jika tombol search atau penelusuran google dipilih maka
aplikasi search akan mencari di seluruh komputer yang terhubung ke internet ,
berbagai jenis data baik berbentuk dokumen, gambar, audio maupun video yang
didalamnya terdapat teks bertuliskan kata “komputer”
Terlihat
dari hasil pencarian diatas menemukan 209.000.000 artikel ataupun dokumen
(dalam bentuk beragam format) yang terdapat kata “komputer” didalamnya.
D.
Teori
Engagement Dalam E-Learning
Aspek-aspek student engagement menurut
Friedricks dkk (2004) :
1.
Behavioral Engagement (Keterlibatan
dalam Perilaku)
Keterlibatan
ini muncul dalam dalam keaktifan siswa pada kegiatan belajar mengajar di kelas.
Seperti bertanya pada guru dan lain-lain.
2.
Emotional Engagement (Keterlibatan
dalam Emosi)
Adalah
reaksi afektif yang dimunculkan siswa dalam kelas yamg terwujud dalam perasaan senang, sedih, cemas, bosan
dan ketertarikan pada pelajaran di kelas.
3.
Cognitive Engagement (Keterlibatan
Kognitif)
Adalah
tentang bagaimana siswa menyusun strategi dalam menyelesaikan permasalahan yang
terjadi dalam pengerjaan tugas-tugas sekolah.
E. Bentuk
Pembelajaran E-Learrning
Bentuk/
Gaya belajar ( learning style) adalah pilihan cara bagaimana peserta didik
mengambil/menerima infromasi dan memprosesnya menjadi pengetahuan yang
bermakna.. Pembelajaran akan efektif bila dalam strategi pembelajaranny
mengkomodasi gaya/bentuk belajar pemelajar. Kondisi tersebut pembelajaran
multimedia.
Konsep
bentuk belajar muncul atas kerja Kolb dengan instrumen gaya belajarnyayang
dihargai sebagai penemu pertama di U.S. Setelah Kolb, muncul banyak instrumen
gaya belajar secara dramatis. Model Felder adalah salah satu bentuk model belajar
yang memiliki pengaruh pada kinerja akademik dan retensi. Model ini dalam
mengukur bentuk belajar pemelajar menggunakan index of learning styla (ILS) dari Felder dan Solomon yang
reliabilitas dan validitasnya sudah teruji bagi mahasiswa teknik/rekayasa.
Model ini memiliki empat dimensi bentuk belajar siswa/ peserta didik, yaitu active/reflective, sensing/intuitive,
visual/verbal, dan sequential/global.
Masing-masing dimensibentuk belajar dideskripsikan sebagai berikut.
1.
Dimensi
Aktif/Reflektif
·
Aktif
: Siswa belajar dengan baik melalui bekerja secara aktif atas materi
pembelajaran, dengan penerapan dan mencobanya. Di samping itu, mereka cenderung
tertarik untuk berkomunikasi dengan yang lain dan belajar secara berkelompok
guna mendiskusikn materi yang telah dipelajari.
·
Reflektif
: Siswa lebih suka berpikir dan merefleksikan materi pembelajaran. Mereka lebih
suka bekerja secara mandiri atau dalam sebuah kelompok kecil dengan teman
baikny.
2.
Dimensi
Sensing/Intuitive (Persepsi)
·
Sensing
: Siswa lebih suka belajar fakta-fakta dan materi pembelajaran yang konkret.
Mereka suka menyelesaikan problem dengan pendekatan yang baku dan cenderung
lebih sabar dengan hal-hal yang detail/terperinci. Mereka lebih realistis dan
bijksana dan cenderung lebih praktis dibandingkan pemelajar yang intuitive.
Mereka lebih suka menghubungkan materi yang dipelajari dengan dunia nyata.
·
Intuitive
: Siswa lebih suka belajar materi pembelajaran yang abstrak seperti teori.
Mereka lebih mampu menemukan keungkinan – kemungkinan, relasi/hubungan dan
cenderung lebih inovatif dan kreatif dibandingkan pemelajar yang memiliki
bentuk belajar sensing
3.
Dimensi
Visual/Verbal (input)
·
Visual
: Siswa mampu mengingat dengan baik melalui pembeljaran dengan apa yang mereka
lihat, seperti gambar, diagram, dan Flowchart.
·
Verbal
: Siswa lebih suka beljar materi pembelajaran melalui representasi tekstual,
baik berbentuk teks maupun narasi (sound).
4.
Dimensi
Sequential/Global (pemahaman)
·
Sequential
: Siswa belajar dengan langkah peningkatan yang keecil dan mempunyai kemajuan
yang linier. Mereka cenderung mengikuti alur langkah-langkah yang logis dalam
menemukan solusi.
Ø Desain pembelajaran Online harus mempertimbangkan setiap
gaya belajar
Sebagai contoh, seorang siswa dapat mengambil manfaat
dari presentasi multimedia visual dari pembelajaran dan materi ajar. Siswa yang
lain mungkin dapat lebih baik menyerap informasi ketika disajikan dalam bentuk
teks. Pembelajaran E-learning yang efektif selalu mempertimbangkan berbagai
bentuk belajar siswa saaat materi ajar sedang dibuat.
Ø Fasilitas kontak
Peserta didik dan pendidik harus mampu membangun jalur
komunikasi yang terbuka. Selain itu, pendidik harus menentukan sarana
komunikasi yang mereka sukai dan selama jam-jam tersebut. Hal ini akan memastikan
bahwa harapan terpenuhi dan bahwa siswa menerima bantuan atau dukungan yang
mereka butuhkan. Selain itu, peserta didik harus memiliki infromasi kontak
untuk satf pendukung sistem TI (teknologi informasi) dan memiliki akses ke
anggota staf secara teratur jika diperlukan. Contoh, bagaimana peserta didik
dapat berkmunikasi dengan pendidik, mereka bisa tersedia dalam bentuk forum
diskusi, media sosial, obrolan, E-mail, konferensi video, dan teknologi VolP
lainnya.
Ø Platform harus mudah dinavigasi dan berfungsi penuh
Saat merancang situs dan platform E-Learning, kemudahan
naigasi dan fungsionalitas harus menjadi prioritas utama. Sebuah platform
pembelajaran berbasis web yang terorganisasi dengan baik dan intuitif
memungkinkan peserta didik untuk sendiri tidak menerima manfaat yang signifikan
dari Asynchronous Learning. Juga dapat menyebabkan perasaan terisolasi karena
tidak ada interaksi nyata dunia pendidikan.
Idealnya,
program \e-learning yang efektif harus mencakup kegiatan belajar Asynchronous
dan synchronous. Hal ini memungkinkan siswa dan guru/ pendidik untuk
mendapatkan keuntungan dan format pengirman yang berbeda terlepas dari jadwal
mereka atau metode pembelajaran yang lebih disukai. Metode ini memberikan siswa
akses untuk mendapatkan bantuan dengan cepat jika dibutuhkan, tetapi masih
memberikan mereka kesempatan untuk belajar sesuai dengan kemampuan mereka
sendiri.
F.
Pengembangan
E-Learning
1. Menentukan Tujuan dari Sistem E-learning
Pengembang
sistem harus menentukan apa yang ingin dicapai dengan adanya e-learning.
2. Memulai
Sistem dalam Skala Kecil
Pengembang
sistem baiknya memulai e-learning dalam sebuah unit yang kecil agar dapat
dijadikan model bagi sistem dalam skala yang lebih besar.
3. Mengkomunikasikan
dengan Peserta Didik
Ketika
peserta didik memahami tentang sistem yang dibangun dan dikembangkan maka
mereka dapat turut memberikan bantuan untuk mencapai tujuan e-learning
tersebut. Maka dari itu mengkomunikasikan sostem ini sangat perlu.
4. Melakukan
Evaluasi secara Continue
Evaluasi
terhadap siatem dan segenap aspeknya perlu dilakukan secara terus-menerus untuk
menjamin keberhasilan penerapan e-learning.
5. Mengembangkan
Sistem dalam Skala lebih besar
Setelah sistem mencapai
keberhasilan dalam skala kecil maka selanjutnya adalah mengembangkan sistem
dalam skala lebih besar, dengan menambah jumlah peserta didik, mata pelajaran,
model evaluasi dan lain-lain.
G.
E-learning
Dalam Bidang Pendidikan
Pembelajaran elektronik atau e-Learning telah dimulai pada tahun 1970-an
(Waller and Wilson, 2001). Konsep Pembelajaran Berbasis
Komputer dan Jaringan adalah suatu bentuk model pembelajaran dengan
memanfaatkan teknologi web dan internet, konsep belajar dan mengajar ini sebenarnya
bukanlah barang baru, bukan juga ide ataupun pemikiran baru, bahkan sudah berkembang sejak
beberapa dasawarsa lalu.
Berbagai istilah digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang
pembelajaran elektronik, antara lain adalah: on-line
learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning. web based
distance education, e-Learning, web based teaching and learning.
Yang perkembangannya pada dunia pendidikan formal baru terjadi pada akhir
90an. Secara
global Konsep Pembelajaran Berbasis Komputer dan Jaringan seringkali
diartikan hanya sebagai e-Learning atau Distance
Learning. Perkembangan Konsep ELearning ini ditandai dengan munculnya
situs-situs yang melayani proses belajar mengajar dengan berbasiskan komputer dan jaringan sejak
era 15 tahun yang lalu di seluruh pelosok Internet dari yang gratis maupun yang
komersial.
Dunia pendidikan Kanada misalnya bahkan telah mulai mengaplikasikan sistem
ini pada dunia pendidikannya, demikian juga di Amerika
muncul komunitas komunitas situs e-Learning yang bersifat terbuka untuk diakses
siapa saja, sedangkan di dalam negeri pembelajaran menggunakan konsep ini sepertinya
masih terbatas diaplikasikan di Perguruan Tinggi, UGM misalnya sejak 1998 telah mulai
merintis suatu bentuk konsep pembelajaran yang mereka sebut sebagai Student Internet
Center, yang memungkinkan mahasiswa bisa secara aktif mendalami pemahamannya
terhadap materi perkuliahan, (Student Active Learner – bukan Teacher Active Learner).
Dari ilustrasi yang disadur dari Newsletter of ODLQC, 2001 sebagaimana
tercantum pada bagian awal tersebut di atas,
setidak-tidaknya dapat ditarik 3 (tiga) hal
penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik
(e-Learning), yaitu:
a.
Kegiatan
pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (“jaringan” dalam
uraian ini dibatasi pada penggunaan internet. Jaringan
dapat saja mencakup LAN atau WAN - dalam bentuk Website eLearners.com).
b. Tersedianya
dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya
CD-ROM, atau bahan cetak, dan
c. Tersedianya
dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami
kesulitan.
Di samping ketiga persyaratan tersebut di
atas masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya:
a. Lembaga
yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-Learning
b. Sikap
positif dari peserta didik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer
dan internet
c. Rancangan
sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta
belajar,
d. Sistem
evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar, dan
e. Mekanisme
umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Dengan demikian, secara sederhana
dapatlah dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (e-Learning) merupakan
kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai
metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai
bentuk layanan belajar lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001). Dalam uraian lebih
lanjut, istilah “e-Learning”, “online learning” atau “pembelajaran elektronik”
akan digunakan secara bergantian namun tetap dengan pengertian yang sama
seperti yang telah dikemukakan.
H.
Pemanfaatan
E-Learning Dalam Perguruan Tinggi
Dalam
penerapan E-learning tenaga pendidik dan peserta didik memiliki perannya masing
masing. Tenaga pendidik memiliki peran sebagi konstruktor
pengetahuan,pembelajar mandiri (indefendent learners) dan pemecah (problem solvers).
Kondisi tersebut telah
menyebabkan e-learning menjadi pusat perhatian khususnya dalam pendidikan untuk
terus dikaji, diterapkan, dan diperbaiki dari berbagai aspek oleh para pakar
dan praktisi pendidikan untuk digunakan dalam pendidikan formal dan nonformal.
Sebagai sesuatu yang baru, penerapan e-learning mungkin masih jauh dari
sempurna jika dibandingkan antara apa yang seharusnya (secara konseptual)
dengan praktik pelaksanaannya (secara faktual). E-learning telah menjadi isu
penelitian dan kajian kontemporer dalam dunia pendidikan dewasa ini. Sejak
ditemukannya teknologi internet, hampir segalanya menjadi mungkin dalam dunia
pendidikan. Saat ini peserta didik dapat belajar tidak hanya dimana saja tetapi
sekaligus kapan saja dengan fasilitas sistem electronic learning yang ada.
E-learning kini semakin dikenal sebagai salah satu cara untuk mengatasi masalah
pendidikan dan pelatihan, baik di negara-negara maju maupun di negara yang
sedang berkembang, khususnya Indonesia. Banyak orang menggunakan istilah yang berbeda-beda
untuk e-learning namun pada prinsipnya e-learning adalah pembelajaran yang
menggunakan jasa elektronik sebagai alat bantunya.
Istilah e-learning
mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan
tentang definisi e-learning dari berbagai sudut pandang. Menurut Khan (2005:3),
e-learning dapat dijadikan sebagai pendekatan inovatif untuk mendistribusikan
desain yang baik, pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, interaktif,
dan memfasilitasi lingkungan pembelajaran untuk setiap orang, kapan saja dengan
menggunakan atribut-atribut dan sumber-sumber dari bermacam-macam teknologi
digital selama materi pembelajaran tersebut cocok untuk pembelajaran terbuka,
fleksibel dan lingkungan pembelajaran, sedangkan Clark dan Mayer (2003:13)
memiliki pandangan lain tentang pengertian e-learning.
Dalam penerapan
e-learning, ada beberapa proses komponen yang harus dilakukan, yaitu (1) konten
yang relevan dengan tujuan belajar; (2) menggunakan metode pembelajaran,
seperti contoh dan praktik untuk membantu belajar; (3) menggunakan elemen media
seperti kalimat dan gambar untuk mendistribusikan konten dan metode belajar;
(4) pembelajaran dapat dilakukan secara langsung dengan instruktur
(synchronous) ataupun belajar secara individu (asynchronous); serta (5)
membangun wawasan dan teknik baru yang dihubungkan dengan tujuan belajar.
Untuk menjalankan suatu
proses pembelajaran yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah
dirancang sebelumnya, maka diperlukanlah suatu strategi bagi seorang pengajar
sebagai rancangan dasar tentang cara membawakan pengajarannya di kelas secara
efektif dan bertanggung jawab. Strategi sendiri pada dasarnya adalah suatu seni
dan ilmu untuk membawakan pembelajaran di kelas sedemikian rupa sehingga tujuan
yang telah ditetapkan dapat dicapai secara efektif dan efisien. Strategi
sebagai perencanaan yang merupakan suatu usaha sadar dari pengambilan keputusan
yang telah diperhitungkan secara matang tentang hal–hal yang akan dikerjakan di
masa depan oleh suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditentukan. Strategi pembelajaran meliputi rancangan, metode, dan perangkat
kegiatan yang direncanakan untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu.
Strategi pembelajaran
yang digunakan dalam e-learning adalah strategi pembelajaran campuran (blended
strategies). Blended learning adalah strategi pembelajaran e-learning yang
mengkombinasikan beberapa strategi pembelajaran dengan kondisi lingkungan serta
fasilitas belajar yang memungkinkan sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai
secara mencapai optimal. Bagi pengajar, dosen, dan praktisi dalam bidang
pendidikan, tentunya akan banyak kombinasi yang bisa dilakukan, apalagi dengan
memanfaatkan tools telekomunikasi yang ada saat ini seperti internet, handphone,
dan teknologi informasi lainnya.
Adanya model strategi blended learning,
seorang tenaga pendidik haruslah kreatif mengombinasikan berbagai pendekatan,
metode, media yang ada untuk mengoptimalkan efektivitas, efisiensi, dan
kemenarikan pembelajaran. Strategi pembelajaran dalam konteks e-learning,
khususnya dalam penggunaan strategi blended learning (pembelajaran kombinasi)
dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan belajar dan pilihan media
komunikasi, di mana tenaga pendidik dan peserta didik dapat mengkombinasikan
secara kreatif. Pendekatan tersebut diantaranya (1) pendekatan synchronous
secara fisik, artinya pembelajaran langsung, di mana tenaga pendidik dan
peserta didik melakukan proses pembelajaran pada saat yang sama dan tempat yang
sama. Contohnya adalah kuliah tatap muka dan ceramah, field trip, workshop,
praktik langsung, dan lain-lain; (2) pendekatan synchronous virtual, artinya
pembelajaran terjadi secara langsung, tenaga pendidik dan peserta didik
melakukan proses pembelajaran pada saat yang sama (real time) tetapi terjadi di
tempat yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Contohnya adalah
belajar melalui chatting, virtual classroom, video conference, dan audio
conference; (3) pendekatan I asynchronous mandiri, artinya proses pembelajaran
terjadi tidak pada waktu dan tempat bersamaan satu sama lain. Peserta didik
memiliki otonomi untuk memilih dan menentukan apa yang akan dipelajari,
bagaimana mempelajarinya, di mana mempelajarinya, dan kapan serta bagaimana
menunjukkan keberhasilan belajarnya (evaluasi).
I. Pemanfaatan
E-Learning Dalam Bidang Pendidikan
Pembelajaran dengan menggunakan e-leaming
memberikan manfaat seperti mempermudah pemberian informasi yang berhubungan
dengan pelajaran dan juga kebutuhan pengembangan diri peserta didik,
mempermudah interaksi pengajar dengan peserta didik, maupun antara peserta
didik yang satu dengan peserta didik lainnya. Peserta didik dapat mengakses
dengan mudah materi ajar, dan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Selain
itu peserta didik juga dapat mengakses soal-soal ujian dengan mudah dan
mengerjakannya dalam rentang waktu yang sudah ditetapkan (Yaniawati, 2010). Menurut
Siahaan (2003) dalam pembelajaran e-leaming memiliki manfaat untuk pengajar dan
peserta didik. Adapun manfaat tersebut yaitu:
Bagi peserta didik Penggunaan e-leaming dalam
pembelajaran memberikan beberapa manfaat bagi peserta didik seperti:
·
peserta didik
dapat melakukan komunikasi dengan peserta didik lainnya mengenai materi
pelajaran setiap saat,
·
peserta didik
dapat mengakses materi ajar di mana saja dan kapan saja.
a.
Bagi pengajar
Pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan e-leaming
memberikan manfaat bagi pengajar seperti :
·
Mempermudah
pengajar untuk mengupdate bahan-bajar
·
belajar
sesuai dengan perkembangan keilmuan yang terjadi.
·
Meningkatkan
pengetahuan/wawasan dan mengembangkan diri
·
Pengajar
dapat mengetahui waktu dan durasi, materi yang dipelajari, berapa kali materi
tersebut dipelajari dan mengendalikan kegiatan belajar peserta didik.
·
Pengajar
dapat mengetahui soal-soal yang dikerjakan peserta didik
·
Pengajar
dapat memeriksa tugas dan memberikan hasilnya langsung kepada peserta didik.
Hal yang senada dengan uraian di atas, Widiasworo
(2019) menyatakan manfaat penggunaan e-leaming dalam pembelajaran yaitu :
1.
Menciptakan
kualitas interaksi yang semakin meningkat Pada pembelajaran konvensional
interaksi berlangsung di dalam kelas.
Interaksi
yang terjadi di dominasi oleh pengajar dan peserta didik yang memiliki
keberanian. Bagi peserta didik yang tidak berani berbicara seperti bertanya
maupun mengungkapkan pendapat akan menjadi pasif di dalam kelas. Namun dengan
menggunakan e-leaming akan memberikan kesempatan kepada peserta didik yang
memiliki keberanian yang minim untuk berinteraksi secara langsung kepada pengajar
tanpa ada rasa malu dan takut karena diketahui oleh teman- temannya.
1.
Interaksi
pembelajaran dapat berlangsung di mana saja dan kapan saja
Pembelajaran
dengan menggunakan e-learning mempermudah peserta didik untuk belajar secara
mandiri. Peserta didik dapat mengakses materi ajar di mana saja karena saat ini
sudah banyak tempat umum yang sudah dilengkapi dengan fasilitas Wi-Fi, seperti
rumah sakit, terminal bis, restoran dan tempat servis kendaraan. Mereka dapat
mempelajari materi ajarnya disaat luang atau santai baik seorang diri maupun
saat sedang berkumpul dengan teman-temannya. Materi ajar bisa diakses dengan
menggunakan komputer dan smart phone yang terhubung ke intemet baik dengan
menggunakan fasilitas Wi-Fi maupun paket kuota yang terdapat pada smart phone
mereka. Bukan hanya itu para peserta didik juga dapat mengerjakan tugas ataupun
soal ujian dan langsung menyerahkannya tanpa harus bertemu langsung pada tempat
dan waktu yang ditentukan.
2.
Menjangkau
peserta didik dalam cakupan yang luas (potensial to reach a global audience)
Pembelajaran
yang dilakukan menjadi lebih fleksibel karena tidak dibatasi oleh ruang dan
waktu. Oleh karena itu maka jumlah peserta didik pun tidak dibatasi atau dengan
kata lain kesempatan untuk belajar memberikan peluang kepada siapa saja yang
membutuhkan.
3.
Mempermudah
pembaharuan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of contenst
aswell as achievable capabilities)
Pengajar
dapat dengan mudah melakukan pembaharuan terhadap materi ajar dengan
menggunakan teknologi intemet. Materi ajar juga dapat disempumakan sesuai dengan
perkembangan keilmuannya secara berkala. Selain itu dapat memperbaiki penyajian
materi pembelajaran dengan lebih sempuma. Untuk melakukan pembaharuan ini
dengan mudah maka pengajar juga harus bisa menguasai materi ajamya dan memiliki
kemampuan untuk mengoperasikan teknologi tersebut.
J. Implementasi
E-Learning Di Era Pandemi Covid-19
Selain
pembelajaran dalam bentuk tatap muka, pemerintah juga mengembangkan system
pembelajaran daring (SPADA) untuk mengubah paradigma system pembelajaran
klasikal menjadi pembelajaran berbasis IT. Perpaduan kedua system pembelajaran
ini disebut blended learning. Pelaksanaan pembelajaran dengan blended learning
berbasis Learning Management System (LMS).
Blended
learning termasuk pembelajaran inovatif yaitu mengombinasikan pembelajaran
tatap muka dan pembelajaran secara daring. Dalam pengembangan dan pelaksanaan
pembelajaran dengan blended learning, Lembaga Pendidikan khususnya perguruan
tinggi menyediakan fasilitas Learning Management System (LMS) sebagai sarana
dalam pelaksanaan pembelajaran dengan system blended learning.
Salah
satu contoh penerapan blended learning ini saat siswa belajar menggunakan dua
pendekatan sekaligus. Artinya, siswa menggunakan dua metode sistem belajar,
secara daring dan juga secara tatap muka melalui video conference. Dalam metode
pembelajaran ini, siswa diminta mempelajari materi yang akan diajarkan guru.
Materi tersebut bisa berupa modul atau video pembelajaran yang akan diberikan
oleh guru sebelum kelas Zoom atau Google Meet dimulai. Jadi, saat Zoom atau
Google Meet berlangsung, guru tinggal menyampaikan poin penting pembelajaran
dan selanjutnya guru berinteraksi langsung dengan siswa melalui video
conference tersebut. Selain itu, ada beragam manfaat lainnya dari metode
pembelajaran blended learning.
1.
Lebih fleksibel
2.
Efektif meningkatkan hasil belajar siswa
3.
Meningkatkan keterlibatan siswa
4.
Meningkatkan kepuasan belajar siswa
5.
Meningkatkan partisipasi siswa
Selain
itu ada juga, implementasi metode pembelajaran E-Learning berbasis WhatsApp.
Dunia pendidikan di Indonesia
semakin mengalami perkembangan
yang signifikan. Perkembangan ini terlihat dari beragamnya metode
pembelajaran yang digunakan.
Metode yang digunakan banyak memanfaatkan berbagai media. untuk meningkatkan
kualitas hasil belajar, apalagi dimasa
pandemi covid-19. Pada masa ini dunia pendidikan dituntut untuk memberikan
pendidikan berupa terobosan baru agar proses pembelajaran berjalan baik.
Maka dari itu salah satu metode e-learning dipilih guna menunjang kebutuhan
proses belajar mengajar sesuai kondisi.
Lembaga
pendidikan memanfaatkan sistem e-learning untuk meningkatkan efektivitas dan
fleksibilitas pembelajaran. Meskipun banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa
efektivitas pembelajaran menggunakan
sistem elearning cenderung sama bila dibanding dengan pembelajaran konvensional
atau klasikal, tetapi keuntungan
yang bisa diperoleh
dengan e-learning adalah dalam hal fleksibilitasnya. Melalui e-learning
materi pembelajaran dapat
diakses kapan saja dan dari mana saja, di samping itu materi yang dapat diperkaya
dengan berbagai sumber belajar termasuk multimedia yang dengan cepat
dapat diperbaharui oleh pendidik. Oleh karena perkembangan e‐learning yang
relatif masih baru, definisi dan
implementasi sistem e‐learning sangatlah bervariasi dan belum ada
standar yang baku.
Berdasarkan
pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran
berbasis web yang
ada di Internet, implementasi
sistem e-learning bervariasi mulai dari
yang (1) sederhana yakni sekedar kumpulan bahan pembelajaran yang
ditaruh di web
server dengan tambahan forum komunikasi lewat e-mail
atau milist secara
terpisah sampai dengan yang
(2) terpadu yakni berupa
portal e-learning yang berisi
berbagai obyek pembelajaran yang diperkaya dengan multimedia serta dipadukan dengan
system informasi akademik, evaluasi,
komunikasi, diskusi dan berbagai
Pendidikan lainnya. E-learning memiliki beberapa indikator
yang akan di deskripsikan dan
menganalisis dengan baik dan
hati-hati.
a) Lebih
mudah untuk diserap
Dalam
indikator pertama dijelaskan bahwa
e-learning memiliki berbagai keuntungan dimana implementasi e-learning berbasis
whatsapp lebih mudah untuk
diserap. Menurtut Darin E.
Hartley (Muharto: 2017) E-learning
merupakan suatu jenis belajarmengajar yang
memungkinkan tersampaikannya
bahan ajar ke
siswa dengan menggunakan media
internet, intranet atau media
jaringan komputer lain.
Sedangkan salah satu
definisi yang dikeluarkan oleh
The American Society for Training and Development(Muharto:
2017) yang menyebutkan bahwa e-learningadalah
himpunan aplikasi dan proses yang meliputi pembelajaran
berbasis web (webbasedlearning), pembelajaran berbasis komputer (computer based
learning),dan kelas virtual
(virtual classroom). Sebagian dari model
ini dilakukan dengan Internet, Intranet, audio,
video, tv interaktif,
dan CD room.
b) Jauh
lebih efektif didalam biaya
Efektif
dalamhal ini artinya tidak perlu
instruktur, tidak perlu
minimum audiensi, bisa dimana saja,
bisa kapan saja, murah untuk
diperbanyak. Selain itu E-learning memberi efisiensi biaya
bagi administrasi
penyelenggara, efisiensi
penyediaan sarana dan
fasilitas fisik untuk belajar
dan efisiensi biaya
bagi pembelajar adalah biaya
transportasi dan akomodasi.
c) Jauh lebih ringkasJauh lebih
ringkas menurut L. Tjokro
(Indrakusuma a.h dan
putri a.r: 2016) artinya
tidak banyakformalitas kelas,
langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai
kebutuhan.
d) Tersedia dalam 24 jam per hari
Tersedia dalam
24 jam per
hari menurut L. Tjokro (Indrakusuma a.h
dan putri a.r: 2016) artinya penguaasaanmateri tergantung
pada semangat dan daya
serap siswa, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test. Setelah menganalisis
definisi e-learning maka
tujuan pembelajaran e-learning
berbasis whatsapp adalah untuk meningkatkan
proses pembelajaran
menggunakan aplikasi media
sosial. Sistem manajemenpembelajaran
tidak hanya memberikan
konten saja, namun juga sebagai alat
komunikasi antara guru dan orang tua juga sebagainya.
atau juga bisa melihat video presentasinya di bawah ini:
Sumber referensi:
Lidia
Simanihuruk, dkk, 2019, E-Learning
: Impelentasi Strategi, Dan Inovasi, Yayasan Kita Menulis, Halaman 18-20
Muhammad Rusli
& Dadang Hermawan 2020, Memahami
E-learning Konsep Teknologi dan Arah Perkembangan, Yogyakarta, Perpustakaan
Nasional : katalog Dalam Terbitan (KDT)
Ni Nyoman Supuwiningsih, 2020, Memahami E- Learning Konsep Teknologi Dan
Arah Perkembangan, Yogyakarta: CV Andi offset ,Hal 2-4 (Ruang Lingkup
E-Learning)
Ni Nyoman Supuwiningsih, Januari 2021, E-learning untuk pembelajaran abad 21 dalam
menanggapi era revolusi, Bali: CV Media Sains Indonesia, Hal 10-11.
(Definisi E-Learning)
Rabiah Adawi, Fakultas Bahasa dan Seni
Universitas Negeri Medan, Pembelajaran
Berbasis E-Learning, Hal 2-3
Sri Gusti,
dkk, 2020, Belajar Mandiri:
Pembelajaran Daring di Tengah Pandemi Covid-19, Yayasan Kita Menulis, Hal. 19 - 20
Kamarga,
Hanny. 2002. Belajar Sejarah Melalui E-Learning: Alternatif Mengakses
Sumber Informasi:. Jakarta: Intemedia.
Sri Gusti, dkk, 2020, Belajar Mandiri: Pembelajaran Daring di Tengah Pandemi Covid-19, Yayasan Kita Menulis, Hal. 19 – 20
Santi Maudiarti. 2018, Penerapan E-learning di Perguruan Tinggi, Vol.32(1) hal. 54-60. http://doi.org/10.21009/PIP.321.7
Andra
Ardila Jani, 2017, Hubungan Teacher Support dan Student Engagement pada
Siswa SMA, Skripsi, Universitas Islam Indonesia, hal 11-12
Kelompok 2
PTIK 1A
1.
Sri Lestari 211223009
2.
Amelia Nuryanti 211223062
3.
Hilda Amelia 211223063
4.
Luluk Anjar Wati 211223022
5.
Dina Fitria 211223066
6.
Yeni Rahmawati 211223016
7. Krisna Adi Wijaya 211223006
Program Studi : Pendidikan Teknologi Informasi Dan
Komunikasi
Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
Muhamadiyah Kuningan
Komentar
Posting Komentar